September ini saya dihadapkan dengan pertanyaan tentang kebahagiaan, hal ini di dapat dari sebuah buku yang saya baca "The Geography Of Bliss" ditulis oleh Eric Weiner yang menceritakan perjalanan dirinya, si penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara mana yang paling membahagiakan. Disini saya tidak sedang membahas isi dari buku tersebut namun ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran saya tentang kebahagiaan. Cukup membuat saya bingung untuk mendefiniskan kebahagiaan pada diri saya. Ini membuat saya sedikit menarik diri dari kehidupan sosial dan menjadikan diri saya lebih pasif dari sebelumnya (hanya untuk beberapa waktu) dan saya pun mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan tentang kebahagiaan kepada diri saya. Apa yang selama ini membuat saya bahagia? Bagaimana saya membuat diri saya bahagia? Sudah sebahagia apa diri saya atas kehidupan yang saya jalani? Seperti apa kebahagian yang melekat pada diri saya? Apakah saya membahagiakan mereka?...
Tidak siap dewasa. Mungkin itu adalah jawaban tepat untuk kondisi yang ada pada diri saya saat ini. Saya masih rabun membayangkan akan seperti apa masa depan saya dengan segala hal yang saya hadapi saat sekarang ini, sedangkan w aktu bergerak sangat cepat, usia saya sudah 24 tahun saja. Ini bukan perkara tiba-tiba, dengan sangat sadar saya sudah berada dalam lingkaran angka tersebut. "Coba pikir dan bepikirlah", suara yang terus mengetuk-ngetuk kepala saya. "Apa yang telah saya lakukan selama ini?" Oh betapa lambatnya hidup saya, itu yang yang ada di pikiran saya. Diusia seharusnya produktif ini saya masih seperti para remaja yang berhip hip hura hura menghabiskan waktunya dari bangun tidur dan tidur lagi, melakukan aktivitas berlandaskan kesenangan hari ini tanpa memikirkan besok dan lusa akan seperti apa. Hal pertama dari dalam diri saya adalah menjalin hubungan, sampai dengan saat ini saya belum terlalu yakin dengan perasaan yang a...