Tidak siap dewasa. Mungkin itu adalah jawaban tepat untuk kondisi yang ada pada diri saya saat ini. Saya masih rabun membayangkan akan seperti apa masa depan saya dengan segala hal yang saya hadapi saat sekarang ini, sedangkan waktu bergerak sangat cepat, usia saya sudah 24 tahun saja. Ini bukan perkara tiba-tiba, dengan sangat sadar saya sudah berada dalam lingkaran angka tersebut.
"Coba pikir dan bepikirlah", suara yang terus mengetuk-ngetuk kepala saya.
"Apa yang telah saya lakukan selama ini?"
Oh betapa lambatnya hidup saya, itu yang yang ada di pikiran saya. Diusia seharusnya produktif ini saya masih seperti para remaja yang berhip hip hura hura menghabiskan waktunya dari bangun tidur dan tidur lagi, melakukan aktivitas berlandaskan kesenangan hari ini tanpa memikirkan besok dan lusa akan seperti apa.
Hal pertama dari dalam diri saya adalah menjalin hubungan, sampai dengan saat ini saya belum terlalu yakin dengan perasaan yang ada pada diri saya terhadap orang yang saya suka. Yah, rasa cinta dan sayang itu selalu ada pada orang yang saya sukai, namun saya tidak memiliki tujuan saat saya mengambil keputusan untuk menjalankan hubungan dengannya. Tidak terpikirkan oleh saya akan berakhir kemana hubungan saya dengan dia nantinya, sekedar pacaran saja. Lambat laun saya tidak menyukai hubungan jenis ini, berpacaran. Suatu kondisi yang menurut saya sangat membosankan dalam sebuah faseh pra hubungan terikat ini.
Kenapa? Dari pengalaman pacaran saya yang tidak pernah berlangsung lama, saya kerap menemukan titik jenuh dimana saya harus mengabarkan keberadaan saya, apa yang saya lakukan, dengan siapa saya saat tidak ada dia, melakukan aktivitas monoton seperti menonton, makan, jalan-jalan bersama dia dan hal-hal kecil yang kerap mampu menjadi besar. Mungkin sebagian orang menganggap itu adalah hal yang menyenangkan, menghabiskan waktu bersama dengan dia dengan segenap aktivitas tersebut. Atau mungkin sayanya yang memiliki kelaianan yang tidak menyukai hal tersbut. Jujur, coba saja tanya hati kita masing-masing.
Di dalam usia sekarang ini, saya masih belum memikirkan sebuah hubungan terikat. Iya kadang saya juga tidak bisa menahan perasaan suka terhadap seseorang, saya akan lebih nyaman menjalin hubungan tanpa harus adanya ikatan tak resmi alias pacaran. Menurut saya, dalam hubungan pacaran, keduanya seperti punya hak penuh atas hidup masing-masing pasangannya, seperti kamu punya hak untuk melakukan apa saja terhadap diri pasanganmu. Dalihnya "kita kan pacaran, kamu kan pacar aku" dan mo bilang apah???. Berbeda dengan kita tidak berpacaran namun saling berbagi perhatian dan pengertian. Hubungan ini mungkin lebih dari sekedar teman atau sahabat, dengan catatan ada keterbukaan pada masing-masing pihak untuk jujur terhadap perasaannya dan mau seperti apa nantinya hubungan tersebut. Dua istilah yang mendekati hubungan ini adalah TTM (Teman Tapi Mesra) atau PHP (Pemberi Harapan Palsu). Tergantung mau seperti apa pasangan ini menjalankannya. Pada intinya, jangan berlebihan pada perasaan yang kita miliki. Cukup atau sedang-sedang saja untuk cinta dan sayangnya.
Jujur saya salut banget buat mereka yang punya pengawet kuat dalam hubungan pacaran. Bisa mencapai setahun itu menurut saya sangat luar biasa. Ok, saya tidak tahu apa yang membuat mereka bisa bertahan bertahun-tahun, namun kenapa tidak diresmikan saja saat sudah merasa yakin terhadap pasangan masing-masing. Bukankah itu jauh lebih baik?
Data yang saya temukan masih belum valid. Yang saya temukan kondisinya seperti ini dari lingkungan pertemanan saya.
1) Ada teman yang masih menjalin hubungan pacaran secara tahun menahun.
2) Ada yang baru dua tiga bulan pacaran lalu melanjutkan dengan menikah.
3) Ada yang dua tiga tahun memilih putus atau memilih menikah.
Dan saya masih saja sendiri, maaf bukan itu yang mau saya sampaikan.
Pada point pertama, saya melihat usaha untuk setia pada mereka dalam menjalin hubungan pacaran. Dengan segala hal dilakukan untuk menjaga hati masing-masing agar tidak berpaling. Dan menjadi suatu kebanggaan saat hubungan tersebut terus berlanjut mencapai angka-angka tertinggi. Sebagai tanda sayang, biasanya selalu ada perayaan dalam bertambah panjangnya usia pacaran mereka. "Selamat Anniversary kita yang ke 69 bulan sayang" Biasanya selalu di posting di semua akun media sosial yang mereka punya. Kadang gatel pengen comment "Bro, apa ya visi misi hubungan pacaran kalian?"
Point dua, point surprise menurut gue. "Gue nikah jam... hari ... tgl... bulan.. tahun... ditempat ..., dateng ye" Wow.. ini yang bikin gue iri. Kenapa? Suka aja dengan jebolan orang-orang yang berhasil married dengan pilihan model beginiian. Tahunya pasca nikah, pasangan ini selalu lebih mesra timbang pacaran dulu. Iya kadang suka degdegan juga karena yang tiba-tiba nikah katanya sudah ngegol duluan. Tapi sejauh ini, teman-teman yang berada di point dua masih banyak yang belum punya baby, kabar resminya masih pengen pacaran dulu. Ok Sippp.
Dan terakhir adalah point tiga. Hal yang umum saya temukan dalam lingkungan saya. Akan ada dua hal, yakni pasangan dalam hubungan ini memilih berpisah. Jika iya, akan ada penyesalan diantara salah satu pasangan. Lebih kepada wanitanya sih yang sangat merasa kecewa dengan keputusan tersebut. Kadang wanita disini merasa sudah banyak berkorban demi menjaga hubungan, dan hasil yang di dapay ia dikecewakan. Lalu memilih menikah, hal ini juga berlandaskan kemungkinan. Bisa karena sudah yakin terhadap pasangan masing-masing atau terpengaruh desakan orangtua dan lingkungan. Hasil yang ditemukan yang memilih menikah seumuran saya sekarang adalah mulailah turun kadar cinta dan setia terhadap pasangannya. Ini terjadi pada pihak lelakinya, yang masih lirik kiri kanan padahal sudah memliki wanita pendamping hidupnya, bahkan sudah memiliki anak. Alasannya beragam.
Perihal diatas adalah sudut padang saya terhadap sebuah hubungan yang nampak dari kacamata bulat saya saat ini. Kebenaran nyatanya hanya ada pada hati para pembaca dan Tuhan. Tidak siap dewasa bagi saya untuk menjalankan sebuah hubungan. Karena selalu berpikir, jika sudah memulai sebuah hubungan artinya saya sudah memiliki tujuan di dalamnya, bukan sekedar hanya menjalankannya.
Saya pun masih sangat kekanak-kanakan, walau makan tidak disuapi, mandi tidak dimandiin dan sok berlagak keren dengan sudah bisa mencari uang jajan sendiri ini masih terlalu muda untuk menyombongkan diri.
Saya tumbuh di era yang serba instan sehingga makanan favorit saya jatuh pada mie instan. Dalam kondisi ini, saya sering diperlihatkan dengan banyak kesuksesan yang di dapat oleh orang-orang seumuran dengan diri saya. Dan itu membuat saya cemburu, ditambah saya mempunyai rival yang sudah beribu-ribu langkah di depan saya. Dan terpikirkan oleh saya untuk mengambil langkah instan demi mencapai titik kesuksesan tersbut. Oh, kekanak-kanakan ini sering menutupi pikiran saya bahwa kesuksesan sejatinya adalah sebuah proses dari niat, usaha, dan doa. Sepertinya saya tidak terlalu berniat untuk sukses. Dan kenyataannya adalah saya termasuk kedalam orang-orang yang tidak cukup bersabar menghadapi sebuah proses. Benar-benar menyebalkan.
Saya terobsesi untuk sukses tanpa sebuah tindakan, inginnya menikmati hasil tanpa sebuah usaha keras, Haha... (mentertawakan diri sendiri) Saya benci dengan anak manja namun saya sendiri adalah anak manja, ini benar-benar bodoh.
Tidak siap dewasa. Kesuksesan bukan sekedar materi dan pencapaian cita. Saya diharuskan kembali belajar tentang ikhlas dan berbagi. Bagaimana saya mampu sukses jika saya tidak ikhlas menjalani kehidupan saat ini? Dan berbagi adalah salah satu langkah untuk mencapai titik kesuksesan. Bukan begitu?
"Coba pikir dan bepikirlah", suara yang terus mengetuk-ngetuk kepala saya.
.......
Komentar
Posting Komentar