Langsung ke konten utama

Tunggu Sukses? Kapan Lagi Bahagiain Orangtua.

Gue yakin setiap anak pengen banget berbakti pada orangtuanya. Coba aja kalo ditanya soal harapan ke depan, pastilah jawabanya pengen bahagiain orangtua. Apalagi pertanyaan itu ditujukan sama yang jomblo berumur. Nikah entaran aja deh, bahagian keluarga dulu, terutama orangtua. Bahagian keluarga terutama orangtua jadi semacam kewajiban bagi tiap anak walaupun orangtua nggak sama sekali nuntut buat dibalas atas semua yang pernah mereka kasih ke anak-anaknya. 


Dengan banyak cara kita sebagai anak berusaha untuk berbakti pada orangtua. Yang pertama adalah dengan niat, ya segala sesuatu itu dimulai dengan niat. Niatnya adalah bisa membuat bahagia orangtua dengan cara masing-masing. Kedua adalah dengan tindakan, bagaimana caranya dan seperti apa itu jalannya intinya dapat membuat oragtua bahagia. Disini pastilah berbeda pada masing-masing orang tapi yang gue liat dan termasuk gue adalah nunggu sukses dulu buat bisa bahagian mereka.



Perkara nunggu itu urusannya sama waktu. Siapa yang tahu kapan kita bisa sukses sesuai keinginan? siapa yang jamin orangtua masih ada selagi kita menuju jalannya sukses? Berurusan sama waktu itu pelik. Tapi bisa lancar kalo kita mengubah pandang bahagiain orangtua tanpa menunggu sukses. Mumpung masih ada waktu, sebisa mungkin kita dapat meluangkan waktu untuk orangtua. Sederhananya dengan ngoborol diruang keluarga sambil nonton acara TV atau makan bareng kalo masih tinggal serumah. Yang jauh dari orangtua, bisa telpon-telponan minimal seminggu sekali buat tanya kabar mereka, contohnya gue.



Share sedikit cerita tentang gue yang masih berusaha bahagiain orangtua. Yang gue sekarang lakuin adalah dengan berbagi rejeki yang gue dapat buat mereka, walaupun ndak seberapa tapi ya kapan lagi buat ngasih "uang jajan" buat mereka. Tunggu sukses?? Yo kapan lagi kalo ndak sekarang. Sukses nantinya bakalan ngasih lebih dari yang sekarang.



Doa orangtua adalah jampi paling ampuh buat langkah kita meraih kesuksesan, selain usaha dan doa kita sendiri. Orangtua mana yang nggak doain anaknya di tiap sujudnya ama Tuhan? Dan apakah kita juga mendoakan mereka dalam sujud kita? Ini yang jadi permasalahan gue. Nggak ada bandingnya kalo cuma berbagi rejeki tanpa gue berusaha buat ngelakuin apa yang jadi pesan mereka. Orangtua gue ndak minta apa-apa cuma nyuruh gue taat sama Tuhan. Jalanin perintahNya dan laranganNya, cuma itu pesan ditiap obrolan gue di akhir telpon. Hal yang nggak berat ini nyatanya susah banget buat gue lakuin, ndak ada paksaan emang. Orangtua gue cuma ingetin, balik lagi ke gue sendiri yang udah bisa mikir. Waktu kecil yo wajar aja dipaksa tapi sekarang udah jadi kewajiban gue sendiri.  



Hidup tanpa pengawasan orangtua itu bikin cemas mereka, sejak lulus SMP gue udah nggak tinggal sama mereka. Kekhawatiran selalu muncul, takutnya gue kenapa-kenapa, lebih takut lagi kalo mereka ndak bisa jadi orangtua yang baik buat anaknya. Bukan tanpa alasan kenapa gue dilepas untuk hidup jauh dari mereka, alasan ekonomi dan kemandirian udah jadi persoalan dalam keluarga gue. Ya walaupun berat buat dijalanin tapi mau gak mau harus dijalanin, namanya juga hidup. Dan gue percaya pasti ada alasan kenapa Tuhan ngasih jalan buat gue dengan cara yang kaya gini. Buktinya dengan jauh dari orangtua gue bisa mandiri, artinya gue mampu bertanggung jawab atas hidup yang gue jalanin, benar atau salah tanpa harus libatin mereka.



Tanpa banyak menuntut kasih sayang, gue sangat bangga dilahirkan dari kedua orangtua gue. Mereka sudah berusaha semampunya buat ngidupin anak-anak yang jadi tanggung jawab mereka tanpa adanya perbedaan. Sikap yang demokratis dalam keluarga menjadikan gue dan sodara-sodara yang lain bebas mengambil langkah masing-masing dalam menjalankan hidup. Dan tanpa tuntutan, mereka ndak minta apa-apa dari anak-anaknya, tinggal gue aja yang harus tahu diri.



Sebisa dan semampu gue lakuin buat bahagiain bapak dan ibu. Dalam doa gue adalah semoga Tuhan ngasih gue kesempatan buat gue ngerawat dan ngejaga mereka. Balas budi seorang anak dan kalo kita bisa bahagian diri sendiri, temen, pacar, dan orang sekitaran. Menurut gue udah cukup buat takaran sukses, kecuali kalo emang sukses itu mampu ambil bintang dilangit sana. Ndak masalah juga, kenapa tidak selagi kita mau berusaha dan asal dapat restu orangtua.



Tunggu sukses? Kapan lagi bahagiain orangtua.  

Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangus Village

Mengingat kembali tempat lahir dan tumbuhnya saya. Satu tempat yang terletak di pulau sumatera bagian selatan, desa Semangus Baru. Desa yang berada di pinggiran sungai semangus, satu dari delapan sungai yang bermuara ke sungai Musi. Sungai Musi ini sungai terpanjang di pulau sumatera, panjangnya mencapai 750km. Sungai ini disebut juga batanghari sembilan  yang berarti sembilan sungai besar, pengertian sembilan sungai besar adalah   Sungai Musi   beserta delapan sungai besar yang bermuara di sungai   Musi . Adapun delapan sungai tersebut adalah  Sungai Komering ,  Sungai Raw as,  Sungai Leko ,  Sungai Lakitan ,  Sungai Kelingi ,  Sungai Lematang , Sungai Semangus ,  Sungai Ogan . Tumbuh menjadi "Bolang si anak tepian sungai musi" adalah keistemewaan sendiri untuk saya. Sedari bisa berenang, sekitaran umur 6 tahun saya tidak bisa lepas dari bermain-main air disungai. Minimal dua kali sehari wajib nyemplung (sebenarnya untuk ...

Menjadi Penumpang Bijak

Gerah dengan orang-orang sehat jasmani yang duduk manis di priority seat? bangku yang dikhususkan bagi wanita hamil, lansia, atau kaum disabilitas. Mungkin gara-gara ini juga, muncul posting di jejaring sosial path, seorang yang mengeluhkan Ibu hamil lebih diprioritaskan daripada dirinya, yang kabarnya mengaku memiliki sakit pada bagian kaki. Hak keduanya untuk duduk di bangku priority seat, karena keduanya sama sama orang yang wajib di prioritaskan. Namun sayang, bahasa yang disampaikan dalam postingan seorang tersebut tidak cukup dewasa dan lebih terlihat menyalahkan si wanita hamil. Entah siapa kedua wanita tersebut, jelasnya gegara ini, orang-orang yang sehat jasmani nan aktif di media sosial jadi heboh ngasih komentar buruk atau sindiran manis. Dari hal tadi menurut saya ini pelajaran penting buat masyarakat kita, termasuk saya pribadi untuk mematuhi peraturan-peraturan umum seperti yang ada pada tranportasi massal. Di Ibukota ini sendiri ada KRL Jabodetabek dan Trans Jakart...

Sambutan Penerbit Jarmo Note's

Kamu mungkin sedang tersesat ke suatu link yang tidak tahu ini apa namanya, mungkin juga sedang dalam kondisi labil dimana semua blog kamu buka untuk mencari jati diri kamu yang hilang atau mungkin kamu adalah seorang jomblo yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghabiskan kesendirian kamu di dunia nyata. Siapapun kamu saya ucapkan selamat menelusuri catatan-catatan tidak penting yang ada diblog ini dan saya tidak menjamin kamu akan bahagia karena kamu hanya akan membuang waktumu secara percuma. Sekian. Sambutan tidak berbobot ini ditulis sebagai postingan perdana dari blog kedua saya, dimana blog pertama saya  amunanjar.blogspot.com  tidak jua mendapatkan applause dari masyarakat sejagad raya, maka dari itu saya memperanakan blog baru yang mungkin bisa menaikan tulisan-tulisan saya tentang beragam hal, jelasnya dalam tulisan ini saya tidak menjamin kamu berhasil merebut hati calon mertua kamu . Ehmmm... Sekarang saya mencoba mulai serius. Sama halnya dengan apa yan...