Gerah dengan orang-orang sehat jasmani yang duduk manis di priority seat? bangku yang dikhususkan bagi wanita hamil, lansia, atau kaum disabilitas. Mungkin gara-gara ini juga, muncul posting di jejaring sosial path, seorang yang mengeluhkan Ibu hamil lebih diprioritaskan daripada dirinya, yang kabarnya mengaku memiliki sakit pada bagian kaki. Hak keduanya untuk duduk di bangku priority seat, karena keduanya sama sama orang yang wajib di prioritaskan. Namun sayang, bahasa yang disampaikan dalam postingan seorang tersebut tidak cukup dewasa dan lebih terlihat menyalahkan si wanita hamil. Entah siapa kedua wanita tersebut, jelasnya gegara ini, orang-orang yang sehat jasmani nan aktif di media sosial jadi heboh ngasih komentar buruk atau sindiran manis.
Dari hal tadi menurut saya ini pelajaran penting buat masyarakat kita, termasuk saya pribadi untuk mematuhi peraturan-peraturan umum seperti yang ada pada tranportasi massal. Di Ibukota ini sendiri ada KRL Jabodetabek dan Trans Jakarta. Kedua transportasi ini menjadi angkutan umum yang berstandar. Ada aturan bagi para penumpangnya, semisal di dalam KRL ada larangan bagi penumpang untuk tidak duduk di lantai atau mengguna kursi lipat, tidak berjualan di dalam rangkaian kereta, tidak merokok, dan meprioritaskan orang-orang yang dirasa tidak kuat fisik untuk berdiri jika tidak mendapat tempat duduk.
Peraturan ini juga ada pada transportasi Trans Jakarta dan sayangnya peraturan-peraturan ini hanya sekedar peraturan yang cuma dibaca tanpa dipatuhi. Kadang teguran dari para petugas pun tidak dihiraukan oleh para penumpang. Saya sebagai seorang yang menggunakan kedua transportasi ini dalam beraktivitas melihat sikap acuh para penumpang, yang entah apa alasanya duduk dibangku prioritas sementara ada orang berhak duduk disana, ada yang duduk dilantai tanpa peduli kereta dalam kondisi padat penumpang, memaksakan masuk sementara di dalam bus sudah penuh, berdiri di depan pintu masuk menghambat para penumpang yang ingin naik ataupun turun dan berjejal masuk menghalangi penumpang yang ingin turun.
Kurangnya kesadaran masyarakat kita dalam mematuhi aturan saat menggunakan trasnportasi massal membuat penilaian bahwa masih rendahnya sikap saling menghormati dan tingginya sikap mementingkan diri sendiri. Menghormati apa yang sudah menjadi peraturan, menghormati pekerjaan seorang apapun jabatannya (petugas jaga yang kerap tidak dihargai saat memberikan teguran) menghormati orang yang lebih tua, menghormati penumpang yang ingin turun, menghormati diri sendiri jika kita adalah orang yang beradab.
Sepertinya kita harus mengingat lagi nilai-nilai dalam budi pekerti luhur yang dulu diajarin disekolah. Jangan sampai majunya kota yang kita tempati ini membuat kita kehilangan perilaku manis yang diturun temurunkan nenek moyang. Jangan buat sedih para pahlawan yang sudah mati dalam berjuang. Jangan buat malu ibu yang sudah melahirkan kita. Jangan... Jangan!!!
Komentar
Posting Komentar