September ini saya dihadapkan dengan pertanyaan tentang kebahagiaan, hal ini di dapat dari sebuah buku yang saya baca "The Geography Of Bliss" ditulis oleh Eric Weiner yang menceritakan perjalanan dirinya, si penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara mana yang paling membahagiakan. Disini saya tidak sedang membahas isi dari buku tersebut namun ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran saya tentang kebahagiaan.
Cukup membuat saya bingung untuk mendefiniskan kebahagiaan pada diri saya. Ini membuat saya sedikit menarik diri dari kehidupan sosial dan menjadikan diri saya lebih pasif dari sebelumnya (hanya untuk beberapa waktu) dan saya pun mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan tentang kebahagiaan kepada diri saya.
Apa yang selama ini membuat saya bahagia?
Bagaimana saya membuat diri saya bahagia?
Sudah sebahagia apa diri saya atas kehidupan yang saya jalani?
Seperti apa kebahagian yang melekat pada diri saya?
Apakah saya membahagiakan mereka?
Apakah saya bahagia?
Saya tidak menemukan jawaban pasti atas pertanyaan dari diri saya kepada diri saya.
Apa mungkin saya tidak bahagia? Tidak, saya merasa bahagia, hanya saja saya sedang terganggu pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bagaimana sebuah kata bahagia mampu mengusik pikiran saya.
Satu waktu saya mengawali hari dengan kekhawatiran, bagaimana saya dapat menjalankan hari ketika saya masih diberikan Tuhan kesempatan untuk dapat bercerita tentang waktu, kadang saya menyerah dalam rasa malas walau hanya sekedar melewatkan waktu entah siang atau malam, dan kadang waktu saya hanya berakhir dengan kembali merebahkan diri di kasur dalam kehampaan. Disini saya katakan saya tidak bahagia karena tidak membuat hidup saya berarti, tidak mampu membuat waktu menjadi istimewa sebab saya terlalu memajakan diri dengan kemalasan. Namun saya tidak menyesali hal tersebut, bagi saya tidak ada penyesalan dalam hidup karena hidup adalah sebuah keputusan lalu keputusan akan membuat sebuah hasil dan hasilnya adalah saya tidak meninggalkan apa-apa untuk dapat diceritakan sebagai sebuah kebahagian dimasa lalu.
Namun pada waktu lainnya saya terlampau bersemangat untuk melewatkan waktu, rasanya 24 jam tidaklah cukup bagi saya untuk melewati hari. Saya bekerja dengan baik, menulis dengan baik, mengajar dengan baik, menolong orang dengan tanpa peduli dia siapa yang penting rasanya baik. tertawa dengan teman-teman di warung kopi atau tempat makan dengan membincangkan banyak hal dengan baik, dan segalanya terasa baik saat pulang dalam kondisi lampu-lampu kamar kosan sudah dipadamkan. Ya saya bahagia, saya mampu untuk membuat hari seperti saat saya bahagia, tetapi ada sesuatu yang kosong saat saya merasa bahagia dengan melewatkan hari seperti ini.
Lalu secara tidak langsung saya bertanya pada orang-orang sekitar apa yang membuat mereka bahagia, jawabannya saya simpulkan sebagai sebuah keinginan. Ada yang ingin menjadi orang kaya, ingin menikmati liburan ke tempat-tempat indah di seluruh penjuru dunia, ingin memiliki mobil keren, gadget terbaru, ingin memiliki pasangan yang setia dan keinginan-keinganan yang bersifat materiil lainnya. Saya rasa semua jenis manusia mengingankan hal itu, tapi hati saya berkata lain, saya tidak bergairah dengan keinginan seperti itu. Saya hanya menyeret pikiran saya untuk berada dekat dengan orang-orang yang memiliki keinginan semacam tadi, saya terkontaminasi sehingga mengaburkan keinginan saya untuk bahagia.
Lalu apa yang sebenarnya yang membuat saya bahagia? saya mulia berpikir keras dengan hal ini, untuk kembali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya tujukan pada diri saya tentang kebahagiaan saya pun kembali ke masa lalu yang memungkinkan saya menemukan jawaban tersebut.
Tepat, ketika saya kecil saya memiliki banyak cita-cita dan sebuah keinginan. Kebanyakan cita-cita, dari menjadi seorang astronot, dokter, arsitek bahkan artis membuat saya harus memilih satu untuk saya raih. Dan adalah menjadi seorang guru yang menjadi pilihan saya. Kenapa? pertama saya lahir dan dibesarkan dilingkungan pedesaan yang memiliki banyak keterbatasan dan minim dengan segala penunjang untuk saya meraih cita-cita kebanyakan tadi. Bukankah keterbatasan harusnya menjadi motivasi? Betul, lambat laun secara alami cita-cita tadi terbias dengan sendirinya saat saya jatuh hati pada profesi soerang guru. Saya menggagumi semua guru-guru saya di sekolah dengan karakter mereka masing-masing, saya menyukai bagaimana seorang guru membuat muridnya menjadi tahu, membuat anak muridnya menjadi orang yang lebih sukses dari kehidupan pribadi seorang guru itu sendiri, dan saya menyukai berbagi. Jadi sekarang saya sudah melebihi pencapaian saya untuk menjadi seorang guru, Tuhan memberikan banyak bonus dan juga tantangan untuk saya dapat berbagi, bukan menjadi seorang guru di sekolah namun di kampus. Saya membahagiakan diri saya dengan mempertahankan cita-cita kecil saya, jadi ini salah satu kebahagiaan saya.
Saya menyebutkan sebuah keinginan bersamaan dengan cita-cita. Apa yang menjadi keinginan saya? kembali pada masa lalu. Sewaktu kecil saya tidak begitu bahagia dengan tumbuh kembang saya yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Semenjak sekolah dasar saya kerap menjadi bahan olokan, iya saya adalah anak laki-laki yang lebih memilih bermain dengan anak perempuan dan tidak punya keberanian jika ditantang untuk berkelahi, baiklah saya selalu dikatakan banci oleh mereka. Perkataan itu tidak pernah lepas dari anak-anak dimana saya tinggal dan bersekolah. Saya melawannya dengan diam, dan saya pun tidak memperdulikan tentang apa yang orang katakan terhadap diri saya dan saya ingin membuat saya bahagia, saya menyimpan dendam untuk dapat membahagiakan mereka yang mendapat ejekan. Dan membahagiakan apa dan siapapun itu adalah keinginan saya, dengan cara dan kemampuan yang saya miliki. Jadi kebahagian kedua saya adalah bisa membuat sesuatu jadi lebih baik.
Dari alasan diatas, rasa bahagia yang belum tersebutkan adalah impian saya. Inilah alasan terakhir yang membuat saya akan merasa bahagia. Saya mampu menjadi orang yang berguna bagi orangtua saya, saudara saya, kerabat, sahabat, rekan kerja serta apa dan siapa pun itu. Hal yang memotong pemikiran saya untuk tidak memusingkan hari esok, lusa, seminggu kedepan atau setahun kedepan. Mimpi saya adalah dengan cara saya,akan menjadi manusia berguna sepanjang Tuhan masih mempercayakan saya untuk dapat bercerita dalam waktuNya.
Ok, jadi tidaklah terlalu sulit dan mudah untuk bahagia. Secara sederhana bahagiaku bukan bahagiamu, kita memiliki takaran yang berbeda-beda. Jika kau bahagia dengan bahagiaku kita bahagia bersama, jika kebahagianku mengusik bahagiamu, ini bisa kita bicarakan kenapa? bisa jadi aku mengambil sesuatu darimu atau memang kau yang tidak suka dengan caraku bahagia. Sekali lagi takaran bahagia itu berbeda-beda, mari kita bahagia dengan cara masing-masing.
Kalimat diatas bukan ditujukan untuk mereka yang suka mengusik kebahagiaan, tetapi memang kadang ada mereka yang berpikir seperti itu, atau memang saya terlampau sensitif sehingga terpaksa menulis kalimat seperti diatas? Heuheu... mungkin saja iya.
Baiklah hanya sebatas ini dulu pemikiran saya tentang kebahagiaan, sadar tidak sadar saya sudah menjawab pertanyaan yang saya tujukan pada diri saya dan saya bahagia dengan kehidupan saya. Semoga apa yang ada dalam tulisan ini memberikan manfaat untuk kalian karena itu akan membuat saya sangat bahagia. Terima kasih.
#Sekian
Komentar
Posting Komentar