Langsung ke konten utama

Semangus Village

Mengingat kembali tempat lahir dan tumbuhnya saya. Satu tempat yang terletak di pulau sumatera bagian selatan, desa Semangus Baru. Desa yang berada di pinggiran sungai semangus, satu dari delapan sungai yang bermuara ke sungai Musi.

Sungai Musi ini sungai terpanjang di pulau sumatera, panjangnya mencapai 750km. Sungai ini disebut juga batanghari sembilan yang berarti sembilan sungai besar, pengertian sembilan sungai besar adalah Sungai Musi beserta delapan sungai besar yang bermuara di sungai Musi. Adapun delapan sungai tersebut adalah Sungai KomeringSungai Rawas, Sungai LekoSungai LakitanSungai KelingiSungai Lematang, Sungai SemangusSungai Ogan.

Tumbuh menjadi "Bolang si anak tepian sungai musi" adalah keistemewaan sendiri untuk saya. Sedari bisa berenang, sekitaran umur 6 tahun saya tidak bisa lepas dari bermain-main air disungai. Minimal dua kali sehari wajib nyemplung (sebenarnya untuk mandi), Karena pada dasarnya sungai semangus adalah sumber kebutuhan air masyarakat disana, untuk dikonsumsi sebagai air minum, mandi, mencuci bahkan buang hajat pun disana. Eits.... Ini tidak semengerikan bayangan kalian kok. Walau pun sampai saat ini kebutuhan tersebut masih menjadi bagian dari aktivitas keseharian masyarakat semangus tapi sudah banyak yang menggunakan MCK sendiri dirumahnya.

Dalam perubahan musim di Indonesia, sungai semangus akan mengubah dirinya menjadi dua wajah. Pertama sungainya akan melebar dengan arus yang cukup deras dan terlihat berwarna kecoklatan saat musim hujan. Curah air yang banyak akan menaikan ketinggian air mencapai tebing, bahkan akan membanjiri desa yang berada di ketinggian yang rendah. Air yang pasang ini membawa keberkahan tersendiri, sampah-sampah yang hanyut (gelondongan kayu, barang-barang plastik) yang dibuang penduduk yang tinggal di hilir ini akan terdampar ke hulu, salah satunya sungai semangus akan dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, seperti kayu bakar dan jika beruntung saya akan menemukan mainan macam mobil-mobilan, robot dan bahkan lego. Selain itu, dalam kondisi sungai pasang jenis ikan yang ada disungai pun juga berbeda. Ikan yang tidak bersisik akan lebih dominan ditemukan, seperti patin, juaro, biran, dan banyak lagi yang saya lupa mengingatnya. Agak asing memang nama-nama ikannya karena saya pun belum mengetahui nama latin dari jenis ikan-ikan tersebut. Dan satu fenomena yang unik setelah selesainya air pasang adalah adanya ikan mudik.

Jadi gak cuma orang aja yang mudik, ikan pun juga ikutan mudik. Berakhirnya air pasang, muncul rombangan ikan-ikan kecil, terutama ikan seluang yang berenang di pinggiran sungai semangus mengarah dari hulu ke hilir. Fenomena ini adalah berkah sendiri bagi saya, karena saya bisa menangkap ikan tersebut untuk dijadikan bahan olahan seperti kerupuk ikan. Dalam waktu kurang lebih satu jam saya bisa menangkap satu ember ikan dengan menggunakan alat yang disebut "Pesap". Dari bahan yang sama seperti jala denganrajutan yang sama namun tidak menggunakan pemberat. Pesap menggunakan bambu kecil dan lentur sabagai gagangnya. Dalam penggunaannya, pesap akan menjaring ikan-ikan yang bergerak maju (dari hulu ke hilir), pengguna hanya membentangkan pesap di arus yang tidak terlalu deras, menunggu sekitaran satu menit lalu mengakatnya. Alat ini sangat efektif digunakan pada saat ikan mudik.

Berbeda saat musim kemarau, sungai semangus akan surut dengan memiliki tebing tinggi yang cukup curam. Warna air sungai terlihat jernih dengan arus yang tenang dan dihiasi pantai-pantai kecil (berupa hamparan pasir dan batu sungai dengan panjang sekitar 200 meter dan lebar 50 meter). Pada musim inilah saya dan teman-teman lebih sering berada disungai daripada diatas desa, akan sepuasnya berenang dan bermain pasir dipantai. Untuk para orangtua, pada musim ini mereka memanfaatkan hamparan pasir dan batu untuk dijadikan material pembuatan rumah atau menjualnya kepada orang yang membutuhkan. Ah sangat membantu perekonomian masyarakat desa semangus.

Kedua musim ini memberikan kesan tersendiri tentang pemandangan alamnya. Musim hujan menimbulkan kesejukan desa diatas tanah-tanah basahnya yang menciptakan obrolan hangat dalam ruang keluarga sambil menikmati pisang goreng dan secangkir teh. Sedang musim kemarau akan menampakan pemandangan senja yang luar biasa indah, hangat dan meyenangkan.

Dua musim yang berganti ini tidak pernah meninggalkan bosan bagi saya, diberikan kesempatan untuk membuat kenangan dan ingatan tentang suatu masa di desa semangus adalah hal yang sangat istimewa. Menemukan sahabat-sahabat kecil yang tidak bisa saya lupakan. Dimasa sekolah dasar, saya di didik oleh guru-guru dengan pengajaran yang tulus, adalah almarhum Bapak Rustam. Guru pertama saya yang mengajarkan saya membaca dan menulis dengan kejujuran. Jujur tidak boleh mencotek saat ulangan, berapapun hasil yang di dapat harus bangga karena merupakan kerja keras sendiri. 

Dan saat sekolah menengah pertama, masa-masa cinta monyet itu tumbuh. Eaaaaa... Masa dimana mulai pembentukan karekter diri, tumbuh bersama anak-anak desa yang sebenarnya mempunyai kemampuan yang sebanding dengan anak kota. Pak Suyamto, guru transmigran dari kota Solo yang menjadi panutan dalam menimba ilmu, beliau mengajarkan betapa pentingnya sebuah ilmu dan pendidikan, beliau mendorongan saya untuk meraih pendidikan setinggi mungkin dan membaginya tanpa perlu mendapatakan balasan karena balasan yang paling berharga itu adalah balasan dari Tuhan. Hingga kini saya masih memegang keyakinan untuk bercita seperti beliau, menjadi seorang guru cerdas, bijaksana, rendah hati, dan tanpa balas.

Sembilan tahun mendapatkan pendidikan di desa semangus, mengharuskan saya untuk pindah tempat tinggal untuk dapat meneruskannya ke tingkat atas. Bukan tanpa alasan, di sana hingga tahun 2004 hanya ada sekolah 4 sekolah dasar negeri dan 1 sekolah menenagah pertama swasta. SDN 1 Semangus, SDN 2 Semangus, SDN 3 Semangus, SDN 4 Semangus dan SMP Bakti Marga Semangus. Sekolah-sekolah ini menjadi bekal bagi anak-anak desa semangus dan sekitarannya. Ditahun 2004 dibangun SMP Negeri dan menyusul 3 tahun selanjutnya ada SMA Negeri Semangus yang masih satu gedung dengan SMP Negeri. Informasi terbaru, setelah mudik di tahun 2014 ini SMA Negeri Semangus sudah memiliki gedung tersendiri.

Pembangunan sarana pendidikan hingga tingkat atas ini sangatlah memberikan kemudahan dan harapan bagi anak-anak desa semangus dan sekitarnya dalam meraih pendidikan. Minimal mereka tidak terlalu jauh untuk dapat bersekolah, tidak perlu lagi terpisah dari orangtua untuk melanjutkan sekolah, karena dulu untuk bisa bersekolah SMA letak sekolah sangat jauh serta tranportasi yang tidak memungkinkan untuk mencapainya. Jadilah yang memang berniat sekolah mau tidak mau tidak mau harus ngekos atau tinggal dirumah sanak keluarga atau hanya mengeyam pendidikan sebatas SMP.

Jadi flash back ke masa sekolah. Hehe...

Selanjutnya saya akan berbagi cerita tentang makanan-makanan yang ada di desa semangus. Secara turun temurun generasinya menyimpan resep masakan dari leluhur. Mengolah dan memanfaatkan sumber makanan yang ada di lingkungan sekitar. Ikan-ikan yang ada di sungai di vermentasi menjadi "Rusip", ikan yang disimpan dalam wadah yang tertutup rapat yang bisa dijadikan simpanan makanan untuk waktu yang cukup lama. Ikan yang dijadikan rusip adalah ikan-ikan kecil. Untuk ikan yang besar biasanya dibuat "Peda" yang juga divermentasi atau dibuat "Sale Ikan". Ada juga dari olahan buah, seperti  buah durian, divermentasikan juga menjadi "Tampoyak" yang bisa menjadi bahan utama untuk membuat gulai ikan dan pepes. Durian juga bisa dibuat dodol yang disini disebut "Lempuk". Makanan khas lainnya adalah makanan yang mencirikan palembang, adalah ragam empek-mpek, tekwan, model, atau kerupuk dan kemplangnya.

Sedikit catatan dari kampung halaman saya, desa Semangus Baru. Dan jika ada yang sudah berkunjung dan ingin menambah catatan yang di dapat bisa juga share disini. Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Penumpang Bijak

Gerah dengan orang-orang sehat jasmani yang duduk manis di priority seat? bangku yang dikhususkan bagi wanita hamil, lansia, atau kaum disabilitas. Mungkin gara-gara ini juga, muncul posting di jejaring sosial path, seorang yang mengeluhkan Ibu hamil lebih diprioritaskan daripada dirinya, yang kabarnya mengaku memiliki sakit pada bagian kaki. Hak keduanya untuk duduk di bangku priority seat, karena keduanya sama sama orang yang wajib di prioritaskan. Namun sayang, bahasa yang disampaikan dalam postingan seorang tersebut tidak cukup dewasa dan lebih terlihat menyalahkan si wanita hamil. Entah siapa kedua wanita tersebut, jelasnya gegara ini, orang-orang yang sehat jasmani nan aktif di media sosial jadi heboh ngasih komentar buruk atau sindiran manis. Dari hal tadi menurut saya ini pelajaran penting buat masyarakat kita, termasuk saya pribadi untuk mematuhi peraturan-peraturan umum seperti yang ada pada tranportasi massal. Di Ibukota ini sendiri ada KRL Jabodetabek dan Trans Jakart...

Sambutan Penerbit Jarmo Note's

Kamu mungkin sedang tersesat ke suatu link yang tidak tahu ini apa namanya, mungkin juga sedang dalam kondisi labil dimana semua blog kamu buka untuk mencari jati diri kamu yang hilang atau mungkin kamu adalah seorang jomblo yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghabiskan kesendirian kamu di dunia nyata. Siapapun kamu saya ucapkan selamat menelusuri catatan-catatan tidak penting yang ada diblog ini dan saya tidak menjamin kamu akan bahagia karena kamu hanya akan membuang waktumu secara percuma. Sekian. Sambutan tidak berbobot ini ditulis sebagai postingan perdana dari blog kedua saya, dimana blog pertama saya  amunanjar.blogspot.com  tidak jua mendapatkan applause dari masyarakat sejagad raya, maka dari itu saya memperanakan blog baru yang mungkin bisa menaikan tulisan-tulisan saya tentang beragam hal, jelasnya dalam tulisan ini saya tidak menjamin kamu berhasil merebut hati calon mertua kamu . Ehmmm... Sekarang saya mencoba mulai serius. Sama halnya dengan apa yan...